Sejarah Seni Rupa Barat dan Timur
1. Sinopsis Sejarah Seni Rupa Barat I ( abad pertengahan )
Disebut Seni Rupa Abad Pertengahan karena merupakan peralihan dari dunia klasik kedunia modern (yaitu antara periodekuno dan periode Reinaisans (±400-1400 M)). Pada masa inilah mulai muncul agama Kristen yang kemudian mempengaruhi dalam penciptaan karya seni rupanya.
a. Gaya Klasik (Romawi)
Sebelum berdirinya Kerajaan Romawi, Italia Tengah didiami oleh bangsa Etruska. Kebudayaan bangsa ini banyak sekali dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani ketika bangsa ini menduduki Italia. Pengarang Romawi, Vitruvius menceritakan bahwa dalam seni bangunan, terutama kuil-kuil, banyak sekali kelihatan pengaruh tersebut. Kuburan-kuburan dibangun menyerupai cugung Yunani dan pada bagian bawah, yakni di dalam tanah dibuat seperti ruang-ruang jenazah orang Mesir.
Dalam membangung keperluan-keperluan yang langsung dipergunakan, seperti jembatan-jembatan dan gerbang-gerbang kota, mereka memakai bentuk-bentuk lengkung dan relung-relung yang menurut dugaan para ahli adalah tiruan dari bangunan relung Mesopotamia, pengaruh yang dibawa oleh pelaut-pelaut Fenisia.
Seni lukis Romawi dapat dijumpai di dalam rumah-rumah bangsawan di kota Pompei. Lukisan ini merupakan lukisan dinding dari kapur lembab (fresco).
Ciri-ciri yang jelas adalah unsur-unsur perspektif yang dikemukakan yang bertentangan atau berlawanan dengan pengertian hiasan datar. Oleh karena itu lukisan ini membawa efek lain, yaitu tidak seperti kita melihat dinding yang digambari, melainkan melihat pemandangan alam yang sebenarnya. Kadang-kadang bagian yang kecil dari tembok dilukisi dengan cerita-cerita mitos yang mengesankan lukisan dinding (mural).
Di dalam istana-istana Romawi terdapat juga lantai-lantai dalam bentuk mozaik yang memperlihatkan suasana ilusionis disebabkan unsur perspektif serta gelap dan terang dipergunakan. Contoh yang indah adalah suatu mozaik lantai yang menggambarkan pertempuran Iskandar Agung melawan orang Persia, yaitu pertempuran dekat Issus.
Demikianlah karya-karya seni lukis Romawi yang dianggap mengikuti jejak seni lukis Yunani.
b. Gaya Nasrani Kuno
1. Zaman Katakomba
Sesuatu yang tak kalah pentingnya dengan liang-liang katakomba dan ruang-ruang ibadat ialah tulisan-tulisan pada kuburan-kuburan dan kisah-kisah yang dilukiskan pada dinding dan langit-langit. Tulisan-tulisan merupakan ucapan-ucapan hormat dan cinta kasih kepada yang meninggal. Semua lukisan merupakan hiburan dan pendorong bagi yang hidup. Semua lukisan menggambarkan kebangunan-kebangunan di dalam kuburan dan pertolongan-pertolongan ajaib (mukjizat) dari siksaan dan malapetaka. Kebangkitan Lazarus, hikayat Yunus dengan ikan paus, Daniel di liang singa, Suzanna dan orang tua, tentang tiga orang laki-laki dalam api pembakaran, Nabi Nuh dengan kapalnya, hikayat Nabi Musa dan sebagainya. Ada pula lukisan-lukisan orang-orang yang telah mati sedang bersembahyang di sorga atau sedang menikmati hidangan yang lezat-lezat.
Karya seni lukis Nasrani Kuno ini tampaknya memang masih sangat dipengaruhi lukis Romawi. Maka tidak jarang lukisan Nabi Isa yang terdapat dalam Katakomba dibuat seperti Orpheus yang dengan nyanyiannya menjinakkan binatang buas. Makhluk dalam kisah Andromeda dilukiskan sebagai ikan paus dalam hikayat Yunus, peti kepunyaan Danae sebagai kapal Nabi Nuh. Burung bangau dalam mitos Yunani ditiru sebagai lambang keabadian, dan burung nuri sebagai lambang kebangkitan. Roh-roh dilukiskan sebagai Dewi Psyche Yunani, dewi cinta sebagai Eros, bidadari sebagai cupido bersayap, dan kebahagiaan di sorga digambarkan sebagai orang-orang yang muda belia dan sebagainya.
Di samping itu muncul pula gambar-gambar motif Nasrani asli yang murni. Lambang-lambang ini dipilih demikian rupa sehingga oleh orang-orang Nasrani yang percaya dan beriman dapat dipahami, seperti pelepah pohon zaitun, pelepah pohon palma, perahu, jangkar, pohon anggur, ikan, anak domba, burung dara, huruf dan monogram.
Jika kepercayaan Romawi dalam menanggapi suatu benda hanya lahiriahnya saja, tidak memberikanarti rohaniah, maka kaum Nasrani sebaliknya. Mereka mempercayai akan adanya pembalasan, sahid, kemenangan, serta pahala; mempercayai lambang-lambang Sakramen Nasrani serta Nabi Isa.
Lukisan-lukisan di dalam Katakomba bukanlah dimaksudkan sebagai lukisan yang menggambarkan keadaan sehari-hari, melainkan selalu membawakan pengertian keagamaan, pengertian akan hari akhirat.
2. Zaman Basilika
Dalam tahun 313 Kaisar Konstantin memberi kebebasan kepada kaum Nasrani untuk menjalankan siar agamnya (undang-undang Milano). Dan dalam tahun 380 Kaisar Theodosius mengeluarkan pengumuman, bahwa agama Nasrani telah dijadikan agama negara. Sejak saat itu kesenian Nasrani dapat berkembang dengan leluasa.
Di bidang seni lukis, lukisan-lukisan dinding merupakan teknik mozaik yang oleh bangsa Romawi dalam zaman berhala sudah dikerjakan pada lantai-lantai istana. Seniman-seniman Nasrani lebih pandai dalam mengatur warna dan lebih cepat dapat memberi efek berkilau-kilauan dengan mempergunakan kepingan-kepingan pualam berwarna atau beling-beling yang bercat perada. Terutama warna emas latar belakang yang disapu dnegan perada, amat kemilau tampaknya, sehingga dikatakan “mozaik emas”. Kecuali perbedaan warna serta bahan yang dipergunakan, seni mozaik Nasrani Kuno sama dengan karya orang Romawi, sama dalam kebebasan komposisi, efek warna, dan cahaya serta bayangan, dan sebagainya. Contoh-contoh yang indah adalah mozaik-mozaik di makam Galla Placidia di Ravenna.
3. Zaman Byzantium
Keping-keping (panel) kecil terbuat dari papan atau tembaga yang dilukisi, disebut ikon, banyak dijumpai. Tetapi sebagian besar telah hancur dan binasa. Sebagai ciri khusus, tampak kekasaran dalam gaya. Garis-garis lurus pada kerut-kerut pakaian, sikap yang tegak, wajah yang kaku, dan tidak banyak meniru alam sesungguhnya. Ciri-ciri ini terdapat juga pada karya-karya gambar cat kaca dan mozaik-mozaik. Mozaik-mozaik di Aya Sophia oleh orang Turki telah dilabur, yang tadinya adalah hasil kesenian yang amat indah.
Setelah Kaisar Theodorik meninggal, Kaisar Justinianus memerintahkan menyelesaikan gereja-gereja yang terbengkalai di Ravenna. Kemudian disuruhnya pula membuat mozaik yang menggambarkan baginda dengan permaisuri diiringi seisi istana. Raja dan ratu tampak memakai nimbus sebagai mahkota. Dalam barisan yang lurus tampak iring-iringan berjalan bersisi-sisian. Pad agambar-gambar suci, baik kerut-kerutan pakaian, sikap dan roman muka, tampaknya amat serupa, sehingga kelihatannya seperti hiasan yang bermotif itu-itu juga atau diulang-ulang, tidak merupakan gambar-gambar daripada orang-orang yang berlainan. Cara yang kasar dan kaku ini adalah ciri khas seni Bizantium yang berkesan dekoratif.
c. Gaya Romanesk (Romanisme)
Peradaban orang Eropa Utarajauh terbelakang dibandingkan dengan peradaban orang Bizantium dan Romawi. Perpindahan penduduk secara besar-besaran dan berakhirnya kekuasaan Kekaisaran Romawi menyebabkan terhentinya peradaban di Eropa Utara, yang sesungguhnya baru mulai ditingkatkan oleh orang Romawi. Ada juga rahib-rahib dari gereja Benendikta pada abad ke-8 yang berusaha membawa peradaban ke utara, yang disokong oleh Karel Agung. Usaha itu banyak membawa kemajuan, tetapi kemudian hancur pula oleh peperangan-peperangan yang dilakukan oleh turunan Karel Agung sendiri. Dan dengan adanya penyerbuan bajak-bajak laut Norwegia pada tahun 800-1000, diganyang pula sisa-sisa yang masih ada. Maka hancurlah kebudayaan Eropa.
Keadaan pada abad ke-9 dan ke-10 sedemikian bergolaknya, sehingga ilmu pengetahuan dan kesenian hanya dapat berkembang di biara-biara saja. Maka taklah dapat disangkal, kalau abad ke-10 itu dinamakan orang “Abad Besi”.
Setelah berlalu tahun 1000, kemajuan-kemajuan mulai terlihat. Usaha ini pada masa itu hanya dipimpin oleh kaum agama. Oleh sebab itu kesenian pada abad tersebut amat dipengaruhi oleh suasana keagamaan. Usaha-usaha dalam berbagai bidang pun mulai bergerak cepat.
Tentang bangunan-bangunan atau kesenian profan belum menjadi persoalan dan tidak pernah dipikirkan.
Seni lukis Zaman Romanesk hanya terbatas pada lukisan di atas kertas perkamen sebagai ilustrasi buku yang ditulis dengan tangan. Lukisan-lukisan dinding pada gereja-gereja Romaneska yang gelap boleh dikatakan sedikit sekali. Lukisan-lukisan dalam bentuk keping-keping (panel) dapat dikatakan tidak ada sama sekal.
Apa yang terlihat dalam seni patung, maka pada seni lukis demikian pula. Penggambaran senantiasa lebih mengutamakan cita agama daripada kenyataan duniawi. Jadi, kesenian hasil seni Romanesk disebut ideoplastis. Pengertian yang dikandung lebih diutamakan daripada bentuk. Tuhan dan agama menjadi pusat kegiatan mencipta.
Penjelmaan lain dari bentuk alam adalah ciri yang menonjol dari gaya Romanesk, sama kuatnya di bidang seni patung dan seni lukis. Unsur perspektif tidak ada. Warna terdapat pada bidang rata, sehingga mengesankan karya dekoratif sesuai dengan bentuk miniaturnya. Demikian pula dengan seni mosaik, kaca patri pada jendela-jendela memberikan kesan yang serupa. Jadi, pada lukisan tidak terdapat perspektif bentuk maupun perspektif warna.
d. Gaya Gotik
1. Seni Lukis Kaca
Seni kaca jendela yang tertua menunjukkan dibuat pada abad ke-12. Kaca-kaca berwarna dipotong-potong menurut bentuk yang telah ditentukan, lalu disambung-sambung dengan patrian. Kecuali timah-timah, dipakai juga besi sebagai bingkai untuk penahan tekanan angin. Jendela-jendela dibagi pula atas petak-petak yang sama dan tiap-tiap petak mempunyai gambar sendiri-sendiri. Tetapi ada juga jendela-jendela yang keseluruhan bidangnya merupakan sebuah lukisan. Palang-palang besi bingkai dipasang membelah-belah lukisan.
Seni lukis kaca yang demikian ini tidak dapat dibuat orang lagi sesudah abad ke-12,13. Sebabnya justru karena hasil dari teknik yang belum sempurna, penuh dengan susunan kaca yang tidak sama jenisnya, itulah yang menimbulkan efek yang kemilau. Sebenarnya karya ini merupakan mozaik kaca.
Jendela-jendela Chartres yang termasyur adalah karya-karya Gotik masa permulaan perkembangannya, yakni karya abad ke-12 dan permulaan abad ke-13.
2. Lukisan Dinding dan Lukisan Panel
Pada zaman Romanesk seni lukis terbatas pada pelukisan-pelukisan miniatur. Pada zaman permulaan Gotik hampir tidak berbeda hanya gayanya lebih menggambarkan corak “fisioplastis” (meniru bentuk alam), yakni menekankan pada lahiriah.
Sesudah tahun 1300 barulah terdapat lukisan-lukisan pada kepingan (panel) atau lukisan di tembok-tembok. Tetapi orang menganggap para ahli agak keberatan untuk memasukkannya ke dalam golongan karya Gotik, karena di Italia Gotik kurang mendapat penghargaan.
Pelopor fisioplastis adalah Cimabue (± 1240 – 1300). Yang dapat dikatakan sealiran, meskipun baru dalam taraf permulaan, adalah Duccio. Murid Cimabue yang menjadi terkenal ialah Giotto (1260 – 1330). Meskipun Gotto ini melukis keadaan alam seperti kenyataannya, tetapi tidak jarang ia melukis menurut perasaan-perasaannya. Untuk mendapat efek warna, gambar kuda diberinya warna merah, pohon-pohon biru, dan sebagainya. Perspektif juga diabaikan dengan tujuan untuk mendapatkan efek yang lebih memuaskan.
Pelukis besar pada zaman Gotik ini ialah pelukis Belanda, Jan van Eyck. Dan yang terakhir termasuk besar pula adalah Jeroen Bosch (± 1450 – 1516). Meskipun masa kerjanya terus sampai ke abad ke-16, tetapi ia masih tergolong seniman akhir zaman tengah.
Perbedaan Jeroen Bosch dengan pelukis-pelukis lainnya ialah, jika pelukis-pelukis lain melukiskan tema-tema agama dalam unsur kesucian, seperti pahala, bidadari, dan sebagainya, Bosch sebaliknya. Ia melukiskan tema-tema agama dalam bentuk unsur-unsur dosa, neraka, iblis, kedurhakaan dan lain-lain. Dialah pelukis besar penutup zaman tengah.
e. Renaissance
Aliran Renaissance adalah suatu aliran baru yang lahir di Italia. Bermula pada abad ke-15 dan mencapai puncaknya pada abad ke-16. kota yang terkenal tempat berpusatnya aliran ini adalah Florence.
Renaissance berarti kelahiran baru, suatu pandangan hidup yang merupakan sanggahan bagi Zaman Tengah. Untuk mengetahui dan menelaah aliran Renaissance dan sebab-sebab adanya kelahiran baru ini, hendaklah kita menoleh kembali, ke abad-abad sebelumnya, terutama ke Zaman Tengah.
Sebabnya periode ini dinamakan kelahiran baru, karena pada abad-abad sebelumnya, apa-apa yang lahir baru ini sudah lahir juga pada masa itu. Hanya saja karena pada abad-abad yang lalu itu apa-apa yang lahir itu tidak atau belum mendapat perhatian, bahkan mendapat tekanan. Maka pada permulaan abad ke-15 ia lahir kembali, akan tetapi tidak berarti bahwa ia tidak mendapat tantangan atau halangan-halangan pula. Halangan-halangan dan rintangan tetap ada.
Sebagai contoh bahwa pada permulaan abad ke-15 ini paham Renaissance masih keras ditentang, terjadi pada diri Bruno (1548 – 1600). Ia dihukum bakar karena mengemukakan pahamnya yang dianggap menentang agama Nasrani. Demikian juga dengan Galileo (1564 – 1642), ahli ilmu falak dan filsuf utama yang dihukum penjara dengan tidak ditentukan lamanya, jadi rintangan itu masih ada dan sama benar dengan peristiwa yang menimpa diri Socrates (470 – 400 SM). Ia dihukum mati (minum racun) karena ia telah berani menurunkan filsafat dari langit ke bumi. Jadi, apa yang dilakukan oleh Socrates, filsuf besar itu, belum mendapat sambutan yang baik atau tidak ditampatkan pada tempat yang sewajarnya. Hal ini masih terjadi pada Zaman Renaissance ini. Jadi nyatlah bahwa rintangan itu masih ada, hanya saja desakan serta nafas zaman ini lebih memberi kesempatan untuk menanggapi segala buah pikiran dan penemuan-penemuan baru.
Sejarah seni rupa tidak terlepas dari perkembangan sejarah dunia. Sejarah dunia dibagi atas 4 bagian, yaitu:
1. Zaman Kuna : dari ± 4000 sebelum tarikh Masehi, sampai 476 sesudah tarikh Masehi, yaitu jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat;
2. Zaman Tengah : dari 476 – 1492, yaitu sampai ditemukannya Benua Amerika;
3. Zaman Baru : dari 1492 – 1789, yaitu sampai Revolusi Perancis;
4. Zaman Modern : dari 1789 – sekarang;
Zaman Prasejarah termasuk dalam golongan ke-1, yaitu Zaman Kuna. Kemudian disusul dengan Zaman Mesir, Babilonia, Asiria, Persia, Yunani dan Romawi, yang semuanya tergolong Zaman Kuna.
Dari ± 500 s/d ± 1000 disebutkan masa pembentukan. Tahun ± 1000 s/d 1300 disebutkan masa berkembang (gemilang), dan 1300 s/d 1500 disebut masa kemunduran. Inilah yang termasuk dalam Zaman Tengah.
Dari ± 1500 ialah Zaman Renaissance, yang sesungguhnya masa pembentukkannya telah dimulai ± 1420. Aliran Renaissance ini dilanjutkan dengan aliran Barok hingga akhir abad ke-18.
Dari akhir abad ke-18 sampai sekarang ini termasuk Zaman Modern yang melahirkan aliran-aliran seni rupa modern, seperti Impresionisme, Ekspresionisme, Kubisme, Dadaisme, Futurisme, dan lain-lain.
Mengapakah Renaissance justru lahir di Italia? Sebabnya, oleh karena kebudayaan Romawi yang telah demikian tinggi dan majunya, maka perekonomian dan perdagangan berkembang dengan baik, sehingga melahiorkan golongan-golongan saudagar dan hartawan yang berdiam di bandar-bandar Italia.
Pada Zaman Tengah yang berkuasa adalah kaum agama. Pendeta dan gereja memegang peranan penting dalam politik pemerintah, serta kegiatan seni pada umumnya, dan seni rupa pada khususnya dipengaruhi pula oleh cara berpikir dan suasana masyarakat dewasa ini. Semua kegiatan seni adalah untuk hal-hal yang berhubungan dengan ketuhanan dan kerohanian. Cita rasa, keserasian pandangan menurut estetika Gotik, terlukis pada komposisi yang menjulang ke atas (vertikalisme), melambangkan keyakinan akan kekuasaan gaib di atas segala-galanya.
Paham Zaman Tengah ini disebut teosentris, oleh karena segala kegiatan dipusatkan kepada Tuhan. Manusia merasa dirinya tidak berdaya, hina papa – segala-galanya adalah kehendak Yang Maha Kuasa.
Dengan timbulnya golongan hartawan yang mempunyai harta benda yang berlimpah-limpah, maka mereka tetap berusaha untuk tetap hidup mewah dan mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, zaman ini disebut juga zaman permulaan kapitalisme.
Golongan hartawan ini tidak berminat lagi untuk menyuruh anak-anak mereka menjadi pendeta atau pahlawan perang. Perhatian mereka mulai ditunjukkan pada hal-hal duniawi dan sifat Renaissance yang mudah dikenal antara lain, ialah ciri-cirinya yang individualistis.
Untuk melaksanakaan keinginan kaum hartawan tersebut, tentulah mereka harus lebih banyak memperhatikan masalah manusia di sekitarnya. Perdagangan dan pelayaran harus diperluas. Terutama ke negeri-negeri timur yang dianggap kaya raya; menurut khayalan orang pada masa itu pantainya berpasirkan intan permata dan berbatukan bungkalan emas.
Untuk mencapai cita-cita ini mereka harus lebih banyak mengenal alam seperti mengenal bumi, bulan serta bintang-bintang di cakrawala guna kepentingan ilmu pelayaran. Juga membiayai usaha-usaha ilmiah seperti penyempurnaan pedoman hingga dapat memperluas dunia pelayaran sampai-sampai ke India (Vasco da Gama 1497) dan ke Amerika (Columbus 1492).
Para sarjana haruis dibantu usahanya semikian juga seniman-seniman yang bekerja untuk memberikan kemewahan, baik dalam seni pakai, seni murni, seni suara, dan musik semuanya mendapat perhatian dan sokongan besar dari para hartawan
Dalam Zaman Renaissance ini kaum cerdik pandai dan seniman mulai mendapat perhatian dan bantuan yang sangat menguntungkan bagi usaha-usaha mereka. Dan kaum hartawan menilai dari segi keuntungan material yang dapat mereka peroleh dengan adanya usaha-usaha membantu kaum cerdik pandai dan seniman.
Pandangan yang tadinya dipusatkan pada masalah ketuhanan, sekarang dibelokkan ke arah pandangan baru, yaitu memusatkan kepada manusia, sehingga aliran ini dikatakan bersifat antroposentris.
Selain dari timbulnya gejala kapitalisme, individualisme, memperbedakan seorang dengan yang lain, sebab yang utama juga ialah karena ada timbul aliran atau paham baru yang menentang agama Katolik – Roma.
Banyak pemimpin agama yang tidak menaati undang-undang atau peraturan gereja, penyelewengan dan korupsi dalam pengangkatan uskup-uskup, dan sebagainya. Maka kekuasaan kaum agama mendapat reaksi besar. Kelanjutannya muncul gerakan Reformasi yang dipimpin oleh Martin Luther (seorang guru besar pada perguruan tinggi di Wittenberg, terkenal dengan Konfesi Augsburg sebagai pengakuan mashabnya). Pandangan baru di kalangan reformasi yang beranggapan bahwa bukan hanya gereja saja sebagai alat satu-satunya untuk dapat menyatukan diri dengan Tuhan, menjadi salah satu unsur pula dalam kelahiran sifat-sifat antroposentris.
Pada gambar-gambar atau lukisan maupun seni pahat serta seni bangunan zaman Renaissance, dapat terlihat cirinya yang nyata melalui hukum naturalisme dan komposisi yang melebar atau horizontal.
Jika dalam karya gotik kita melihat karya yang serba ke atas (vertical), maka karya zaman Renaissance ini kita melihat yang serba melebar (horizontal).
Pengaruh Renaissance dalam seni lukis terlihat pada anatomi, proporsi, perspektif, warna, cahaya, komposisi, dan juga mengenai tema.
Tokoh-tokoh Renaissance :
1. Leonardo da Vinci (1452 – 1519) Karyanya yang terkenal :The Last Supper Monalisa
2. Raffael Santi (1483 – 1520)Karyanya yang terkenal : Madonna im grunen
3. Michelangelo (1475 – 1564)Karyanya yang terkenal :Caravaggio
f. Barok
Barok (Baroque) lahir pada bagian kedua dari pertengahan abadak ke-16, sebagai pertanda bermulanya pengaruh kesenian di Italia yang sesudah tahun 1600 menyerbu ke seluruh Eropa.
Barok berasal dari kata Romawi yang berarti “tidak beraturan” atau “menyimpang”. Dalam perkembangannya, Michelangelo dan Palladio dianggap sebagai Bapak Barok, karena keduanyalah seniman yang menjiwai paham ini.
Renaissance melepaskan cara berpikir Zaman Tengah yang berbau gereja. Akibat kelanjutan pandangan hidup ini ia bergerak makin maju, lebih memperhatikan dunia ini secara rasional. Kemajuan pandangan inilah yang menghayati seni Barok, sebagaimana lazimnya pertumbuhan seni yang sudah-sudah.
Peter Paul Rubens (1577 – 1640), seorang seniman Belanda, pergi ke Italia untuk belajar pada seniman-seniman besar Italia pada zaman itu. Akhirnya Rubens inilah yang terkenal sebagai pelopor seni Barok.
Rubens melukiskan tubuh-tubuh orang penuh dengan otot-otot serta tokoh-tokoh perkasa seperti karya gurunya, Michelangelo disertai pula oleh warna yang gilang-gemilang yang diwarisi dari gurunya, Titian. Komposisinya merupakan manusia yang banyak dengan erak yang bergejolak gelisah.
Ciri yang jelas terlihat pada Zaman Barok ini ialah seniman lebih bebas atau leluasan menempatkan dirinya pada hasil-hasil karyanya, sehingga warna tampaknya lebih cemerlang serta ukir-ukiran lebih bergaya, dan efek cahaya lebih mengesankan. Juga gerak dan karakter pakaian, kain-kain (drapery) pada seni patung diberi aksen hingga lebih memperlihatkan gerak yang hidup dan wajar. Karya Rubens: Maria Medici
Zaman ini melahirkan pula pelukis besar yang amat terkenal ke seluruh dunia hingga masa sekarang. Dia adalah Rembrandt van Rijn (1606 – 1669)
Lukisa Rembrandt yang terkenal adalah “Nacht Wacht”. Ia tidak banyak mempergunakan warna seperti Rubens. Kadang-kadang ia hanya mempergunakan warna yang monoton saja. Kekuatan Rembrandt adalah pada penyusunan cahaya. Dengan permainan cahaya ia dapat mengemukakan tema lukisannya. Di samping teknik yang dikuasainya, hasil karyanya dapat menyelami lubuk hati manusia. Karya Rembrandt: Nacht Wacht
Rococo
Pada abad ke-17 Roma adalah pusat perhatian dunia di lapangan seni rupa, seperti Paris pada masa sekarang. Di situ berkumpul seniman-seniman dari seluruh Eropa. Banyak juga yang bermukim untu mempelajari karya-karya besar seniman Rennaissance dan Barok.
Salah satu pengaruh yang amat menonjol dan hubungan seniman-seniman luar Italia dengan seniman-seniman Rennasissance adalah penempatan pemandangan cara Italia. Mereka mengikuti jejak-jejak seniman-seniman Rennaissance yang mempergunakan komposisi Rennaissance yang berdasarkan komposisi Klasik, sehingga taman-taman, pohon-pohonanm semuanya dipangkas rata, tidak menjulang ke udara. Demikian pula aliran horizontalisme kaut berpengaruh, yang disebut gaya Italia.
Pada pertengahan abad ke-18 kelihatan pengaruh Barok mulai menurun. Sifat-sifatnya yang lincah, penuh perasaan, mulai kabur. Hal ini disebabkan oleh karena seni Barok sudah demikian tinggi mencapai tingkat yang ditujunya, sehingga sudah tidak melihat lagi jalan untuk perkembangan selanjutnya. Keadaan yang demikian dinamakan “Rococo”, yakni suatu istilah penamaan bagi kemunduran seni Barok. Istilah ini diambil dari kata “Rocaille”, yakni seni kulit kerang, suatu hiasan yang amat digemari pada waktu itu. Tetapi bukanlah karya seni yang tinggi mutunya, melainkan seni pasaran saja.
Di Perancis terlihat pengaruh Rococo lebih meluas setelah wafatnya Louis IV. Gaya Rococo Prancis yang khas adalah lukisan –lukisan Jean Antoine Watteau (1684 – 1721). Aliran ini membawakan sikap-sikap yang berkehendak kepada kebebasan kosong, berlebih-lebihan, dan dibuat-buat.
Abad Kesembilan Belas
a. Klasisisme
Pada zaman ini Napoleon mengagumi kegagahan bangsa Romawi. Ia menyenangi arsitekturnya yang kukuh tegas, melambangkan keperkasaan. Akan tetapi, meskipun Napoleon menyenangi sifat-sifat yang kukuh perkasa itu, unsur-unsur yang baik dari Zaman Yunani dan dari Zaman Tengah diterimanya juga. Oleh karena itu periode ini disebut “Klasisisme”.
Kehidupan para seniman sampai pertengahan abad ke-19 masih tetap tergantung atau dilindungi oleh kaum bangsawan atau orang-orang kaya, sehingga mereka masih menduduki kelas yang baik dalam masyarakat.
Pada permulaan abad ke-19 lahir berbagai aliran neo. Hal ini disebabkan karena orang telah mulai menemui kebuntuan setelah mengalami klimaksnya pada Zaman Barok, yang telah ditandai oleh kelahiran Rococo.
Pada setiap zaman, jika pegangan orang banyak sudah mulai kabur, biasanya lahir pula seseorang yang membawakan napas baru yang segar. Maka tokoh-tokoh seni rupa mulai pula membawakan udara baru bagi perkembangan seni rupa. Seperti juga yang sudah terlazim atau menjadi tradisi manusia, jika mereka telah berada semikian maju dalam suatu kegiatannya dan menemui kebuntuan, maka ia menggali kembali apa-apa yang sudah lama yang telah terpendam untuk dijadikan unsur baru bagi perkembangan kegiatannya. Maka sebagai kelanjutan Klasisisme, tumbuh Neo-gotik dengan pesat.
b. Romantik
Aliran Romantik ditandai oleh kontras cahaya yang tegas, kaya dengan warna, dan komposisi yang hidup. Perbedaan Romantik dengan Klasisisme terlihat juga pada pengambilan tema. Aliran Romantik senantiasa memilih kejadian-kejadian dahsyat sebagai tema, penuh khayal dan perasaan, petualangan, atau tentang kejadian-kejadian masa kuno atau tentang negeri-negeri Timur yang fantastis. Aliran ini lebih menekankan bagian yang emosional dari tingkah laku dan sifat manusia, daripada sifat yang rasional lebih mengutamakan kepercayaan dan intuisi, bukannya kecerdasan. Meskipun dalam teknik kaum Romantik sangat mahir, tetapi khayalannya akan lebih menguasai buah ciptaan mereka.
Aliran Romantik di Prancis amat kuat terlihat. Pada seni bangunannya, seperti Notre Dame, aliran ini amat jelas mengambil unsur-unsur seni Romawi dan Yunani yang diungkapkan secara romantis. Aliran ini lebih cenderung mengemukakan temperamen senimannya daripada tekniknya.
Pelukis Romantik yang terkenal adalah Theodore Gericault (1791 – 1824) dan Eugene Delacroix (1798 – 1863). Mereka senantiasa melukiskan kejadian-kejadian yang dahsyat, kegemilangan sejarah, serta peristiwa-peristiwa yang sangat gugah perasaan. Pelukis pemandangan yang dalam periose Romantik ini amat terkenal adalah Jean Baptiste Camille Corot (1796 – 1875).
c. Impresionisme
Kata Impresionisme sebenarnya adalah kata ejekan pada lukisan Claude Monet (1840 – 1926), yang dipertunjukkan pada pameran di Paris tahun 1874.
Lukisan Claude Monet ini menggambarkan bunga teratai dalam suasana cuaca pagi hari. Warna-warnanya lembut, bentuk-bentuknya tidak tegas, kekabur-kaburan oleh cuaca dan embun pagi. Karya Monet ini ditolak oleh sebgian besar kritikus dengan dicap impresionisme (terlalu mengesankan pandangan biasa), yakni sebagai kata ejekan. Monet sebagai pelopor Impresionisme tetap meneruskan gaya melukis yang diejek ini. Ia melukiskan pemandangan alam, kesibukan kota, dan lain-lain, dengan menitikberatkan pada cuaca, yakni peralihan cuaca sepanjang hari. Aliran ini didukung oleh pelukis-pelukis Prancis lainnya yang terkenal, seperti Eduard Manet (1832 – 1883), Edgar Degas (1834 – 1971), Aguste Renoir (1841 – 1919), Camille Pissaro (1831 – 1903), dan Alfred Sesley (1840 – 1898). Di Jerman muncul pelukis Impresionisme Adolf Menzel (1815 – 1905) dan Lieberman (1874 – 1935).
d. Neo Impresionisme
majunya pengetahuan manusia tentang ilmu alam, membantu juga bagi para pelukis dalam bidangnya. Dengan ditemukannya teor warna spektrum, yang menyanggah anggapan bahwa cahaya matahari warnanya polos saja, menimbulkan inspirasi pada pelukis Signac untuk membuat teori bahwa suasana selalu dipengaruhi oleh spektrum yang berubah-ubah. endapat ini melahirkan cara melukis yang lain dari biasa. Jika biasanya orang melukis mencampurkan cat atau warna-warna terlebih dahulu diatas palet, baru kemudian disapukan pada kanvas, maka cara baru ini menempatkan langsung warna-warna secara berdekatan satu sama lain. Cara ini dinamakan divisionisme. Sebagai contoh nyata dapat dilihat pada karya mozaik. Jadi, prinsip mozaik itu ada persamaannya dengan divisinisme, meskipun bukanlah itu yang menjadi dasar. Makin kecil petak-petak warna ini, yang hampir merupakan titik-titik, maka ia dinamakan pointilisme. Kesemuanya adalah bertujuan untuk membuat efek cahaya yang kuat. Dan aliran ini disebut Luminisme, yaitu Neo Impresionisme.
Munculnya Luminisme ini disekitar tahun 1885, didukung oleh pelukis George Seurat (1859 – 1891) dan Paul Signac (1863 – 1935). Neo Impresionisme ini didukung pula oleh Paul Cezanne (1839 – 1906) dan Paul Gauguin (1848 – 1903).
e. Realisme
Setelah menemui aliran Impresionisme, seniman-seniman mulai melihat kembali kepada kenyataan. Sesungguhnya aliran Impresionisme tidak banyak mendapat pengikut. Para pelukis lebih menaruh minta kepada kenyataan yang sesungguhnya dan meresapkannya, melukiskan kenyataan sehari-hari tanpa memberi suasana di luar kenyataan, tanpa menjiwai dengan perasaan romantis. Yang dikemukakan terutama kenyataan dari kepahitan hidup, penderita pekerja kasar, kesibukan-kesibukan kota dan pelabuhan. Cara-cara memperindah lukisan seperti kaum Romantik, mereka tinggalkan. Juga mereka menentang sikap hidup kaum Impresionis yang banyak melarikan diri dari keriuhan manusia, mencari alam yang tenang dan sepi. Pelukis Realisme yang terkenal adalah George Hendrik Breitner (1857 – 1923), sedangkan pematung Realis adalah Rodin (Perancis)
Sebagaimana diketahui bahwa terdapat pertentangan dianatara kaum Neoklasikisme denganRomantisisme, namun pada hakekatnya mereka hanya berurusan dengan hal yang tidak tidak nampak mata, yaitu rasio dan emosi, mereka adalah kaum idealisme yang tidak menerima kenyataan apaadanya.
Tidak demikian halnya dengan kaum Realisme, yang mempunyai pandangan dalam menghayati alam ini tanpa ilusi, dan menerima sebagai objek seni sebagaimana apa adanya yang kasatmata. Hal demikian dikuatkan oleh ucapan salah seorang tokoh Realisme, yaitu Courbet seorang pelukis Prancis, dalam deklarasi Realisme:” tunjukkanlah malaikat padaku dan aku akan melukiskannya”, suatu ucapan yang menunjukkan betapa fanaticme nya terhadap hal yang hanya dapat dilihat olehmata, dan bukan suatuilusi, juga tanpa idealis apalagi distorsi.
Sebagai konsekwensi dari ucapan kaum realism tersebut, mereka betul-betul mengungkapkan suatu realita, tidak saja secara visual hanya mewujudkan objek dengan realistis, namunmerekajugamengungkapkanrealitakehidupan, tanpa memperdulikan keindahan, kemolekan, kecantikan, tetapi apa adanya dalam kehidupan sosial, kehidupan social kelas bawah pun sering diangkat menjadi objek realita. Kalaupun melukiskan keindahan alam, namun sesungguhnya ia bukanlah melukiskan keindahannya tetapi begaimana keadaan alam tersebut, yang Nampak dalam panorama ataupemandangan.
Tokoh-TokohRealisme:
Franciscode Goya (1746-1828), ia adalah tokoh realisme yang berhubungan erat dengan Romantisisme. Tokoh yang terkenal dengan karikaturnya adalah Honore Daumier (1808-1879). Tokoh realism yang vocal adalah Gustave Courbet (1819-1877)
“The Stone Breakers” 1849, karyaGustave Courbet dan “The Third Class Carriage”(1862), karyaHonore Daumier
f. Simbolisme dan Monumentalisme
Keadaan masyarakat tidak terpisahkan dari perkembangan seni. Akhirnya pandangan yang menganggap bahwa agama pun bukan saja penting, tetapi adalah faktor yang menentukan pula di dalam seni, mulai meresapi jiwa para seniman. Maka timbullah ilham untuk mewujudkan pandangan ini dalam bentuk seni. Para seniman sudah tidak puas lagi dengan kenyataan lahiriah saja. Mereka ingin menyelami lebih dari itu dan membawakannya ke atas kanvas.
Rangsangan baru ini dinamakan Simbolisme. Simbolisme jangan dikacaukan atau diacampuradukkan artinya dengan pengertian simbolis. Arti simbolis ialah melambangkan sesuatu. Seperti jangkar adalah lambang harapan, timbangan dengan wanita tertutup matanya adalah lambang pengadilan, dan sebagainya. Karya Simbolisme ini pada umumnya melukiskan pergolakan batin yang menghadapi berbagai perasaan. Simbolisme yang dibawa kepada bentuk yang lebih sederhana mewujudkan hiasan atau perlambangan, maka ia dinamakan juga Monumentalisme. Simbolisme lebih mengutamakan unsur-unsur kerohanian. Sebagai imbangan dari periode Impresionisme yang telah mengabaikan faktor ketuhanan, maka pelopor-pelopor Simbolisme memulai dengan membawakan aliran ini untuk menyadari kembali akan hukum ada dan tiada.
Abad Kedua Puluh
Aliran-aliran baru yang lahir pada pertengahan bagian kedua dari abad ke-19, seperti Impresionisme, Realisme, Simbolisme, dan Monumentalisme, pada abad ke-20 masih melanjutkan perkembangannya.
Tokoh-tokoh terkemukanya , kecuali Vincent van Gogh (meniggal pada tahun 1980), semuanya meninggal pada permulaan abad ke-20, seperti Gauguin (1903), Cezanne (1960), dan Douanier (1910).
Karya keempat pelukis yang disebutkan di atas menjadi pembicaraan resmi di antara tahun 1905 – 1920. banyak orang memperdebatkan, membicarakan, dan menulis serta berteori tentang karya-karya mereka ini. Dan hasil-hasil teori inilah yang memberikan nama kepada setiap aliran itu.
a. Fauvisme
Pelopor aliran ini ialah Henri Matiasse. Syarat untuk melihat lukisan-lukisan mereka ini hendaklah kita menyampingkan apa yang dimaksud dengan lukisan itu. Pelukisnya adalah pencinta, dan melukis karena cinta akan melukis. Kita tidak usah mencari kesungguhan isi atau meminta sesuatu yang mengandung pengertian. Mereka melukiskan apa saja yang mereka sukai. Pemandangan alam, pantai laut, alam benda, bunga-bungaan dan sebagainya, memberi warna semaunya, bahkan kalau dirasa perlu, bentuk-bentuknya diberi garis pinggir yang tegas.
b. Kubisme
Aliran ini membawa objeknya kepada wujud bersegi-segi, punya kesan yang monumental, terutama untuk seni patung. Tokoh aliran ini adalah :
Pablo Picasso, G. Braque, Paul Cezanne
c. Futurisme
Aliran ini sangat mengagungkan peperangan. Futurisme dapat dipandang sebagai pendobrakan faham kubisme, yang dianggap statis dalam soal komposisi, garis dan pewarnaan. Futurisme mengabdikan diri pada gerak, sehingga dalam contoh lukisannya, yaitu anjing lari dibuat kakinya banyak sekali. Tokoh aliran ini adalah :
Umbrto Boccioni, Carlo Carra, dll.
d. Absolutisme
Aliran absolutisme membuang sama sekali bentuk alam. Menurut faham aliran ini, seni lukis haruslah secara murni merupakan kesatuan dari warna-warna, garis-garis, dan bidang-bidang. Bentuk alam tiadalah tempatnya pada suatu lukisan.
Pelopor aliran ini adalah Wassily Kadinsky. Ia adalah orang Rusia yang menetap di Munchen pada tahun 1911.
e. Esensialisme
Menurut faham aliran ini, yang esensial dalam keseimbangan kosmis adalah kesatuan dari daya angkat yang menyebabkan semuanya berada di tempatnya masing-masing. Keseimbangan kosmis adalah yang esensial dari semua yang ada. Pengungkapan yang esensial ini adalah tujuan seni. Maka itu aliran ini dinamakan Esensialisme.
Pelopor aliran ini adalah pelukis Belanda Piet Mondriaan (1872 – 1945) yang tinggal di Paris.
f. Elementarisme
Istilah Elementarisme ini diucapkan oleh Theo van Doesburg, seorang seniman Belanda yang berpendirian bahwa dalam menciptakan hasil seni, jiwa haruslah dalam keadaan sebebas-bebasnya.
Pada karya-karya aliran ini tampak bidang-bidang diisi dengan garisi-garis miring yang dimaksud sebagai gerak, mengesankan suatu kegiatan perjuangan..
g. Ekspresionisme
Aliran ini berusaha mencurahkan jiwa atau perasaan seluruhnya pada waktu melukis untuk menyatakan segala sesuatu yang dipiirkan maupun dirasakan pelukis terhadap objeknya. Pengolahan bentuk dan warna dicurahkan secara cepat dan spontan, sejujur-jujurnya menurut perasaan pelukis. Tokohnya adalah :
Vincent van Gogh, Paul Gaguin, Ernast, dll.
h. Dadaisme
Aliran dada merupakan isyarat nihilistis dari ailran yang berikutnya. Aliran ini lahir di Zurich, tumbuh dalam suasana perang dunia I. sifatnya anti seni. Anti perasaan, cenderung kepada kekerasan. Karyanya serba aneh. Misalnya lukisan “Monalisa” yang diberi kumis. Tokohnya ialah Ruigi Russalo, Severini.
i. Surealisme
Kaum surealisme berusaha membebaskan diri dari kontrol kesadaran, menghendaki kebebasan besar sebebas orang bermimpi. Gerakannya sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran ilmu jiwa. Tokoh aliran ini ialah:
Salvador Dali dan J. Miro
j. Neo Realisme
Pokok lukisan selalu diambil dari hal-hal yang nyata dan biasa. Makin biasa makin baik. Hal ini adalah suatu tantangan terhadap aliran yang diperindah, bersifat poetis, sentimental, dan romantis.
Pelukis-pelukis Neo-Realisme adalah Fermhout (1922), Schumacher (1894), Willink (1900), Pijke Kock (1910), Raoul Hynckes (1893), Dick Ket (1902).
k. Neo Klasisme
Seni rupa yang berkembang di Eropa, mula-mula lahir di Yunani kuno. Berpusat pada homosentris. Dengan pelopornya Louis David.
Tokoh utama Neo Klasika dalah Jaques Louis David (1748-1825), ia merupakan pelukis pertama dalama sejarah seni modern, oleh karena ia merupakan tokoh dalam pembaharuan seni modern, sehingga ia menduduki posisi yang sangat penting di kehidupan social masyarakat, kehidupan social yang meliputi kehidupan politik, maupun dalam lingkungan intelektual.
David disebutkan tokoh pembaharuan, oleh karena ketika para pelukis masih diliputi dengan buaian keindahan seni Rococo yang sedang melanda dunia seni setelah menurunnya kualitas seni Renaissance dengan istilah Mannerism, justru ia menciptakan suatu karya yang sangat dramatis, tanpa mengutamakan kemolekan, tetapi menampilkan sebuah kepiluan, dengan karya “Sumpah Horatii”nya pada tahun 1784. Sebuah karya yang diciptakannya berdasarkan novel Klasik yang berlebel “Horatius” yang dikarang oleh seorang budayawan sastra yang bernama Corneille.
Antara Neoklasikisme dengan Romanitisisme mempunyai perbedaan yang cukup fundamental, karena terdapat pertentangan sebagai latar belakang penciptaan kedua mashab yang lahir dalam abad yang sama yaitu abad ke 19
Kedua mashab dalam masing-masing deklarasinya mengungkapkan bahwa:
Neoklasikisme yang di kumandangkan oleh David, menjadikan ratio sebagai pelita dalam penciptaan seni, sedangkan kaum Romantisisme mengatakan bahwa hati mempunyai persoalan yang ratio tidak tahu. Itulah ungkapan yang masing menempatkan ratio dan emosi bukan sebagai satu kesatuan melainkan sebagai suatu yang bertentangan
B. SEJARAH SENI RUPA TIMUR
PERKEMBANGAN SENI RUPA TIMUR
Jauh sebelum dimulai perhitungan tahun masehi, dibeberapa tempat di daerah timur sudah memperlihatkan suatu kebudayaan yang bermutu tinggi. Dan sangat berpengaruh baik di timur maupun di daerah barat. Kesenian timur pada awal perkembangannya berpusat di Mesir, Mesopotamia dan India (lembah sungai Indus). Ketiga daerah ini menampilkan bentuk seni yang memiliki ciri khas masing – masing sesuai dengan kepercayaan, pandangan hidup dan tradisinya.
1. Sejarah seni lukis China
Tiga ribu tahun lalu, Tiongkok telah mencapai kemajuan cukup besar di bidang seni lukis. Dalam kitab-kitab kuno sudah terdapat catatan tentang kegiatan seni lukis. Pada zaman dinasti Qin dan Han, 2000 tahun lebih yang lalu, adalah masa awal imperium feodal dengan kekuasaan monarki. Selama masa itu, seni lukis Tiongkok kebanykan adalah lukisan dinding untuk mempropagandakan tata susila dan menyatakan penghargaan kepada pejabat yang berjasa. Pada dinasti Han muncul lukisan pada kain sutera yang bergaya bebas, tapi cenderung rapi dan indah, dengan hidup mengekspresikan kehidupan aktual, sejarah serta tokoh-tokoh dalam dongeng. Pada zaman Tiga Kerajaan serta Jin selatan dan utara seribu tahun lebih yang lalu adalah zaman perpecahan Tiongkok dalam waktu panjang;namun masa itu adalah tahap penting dalam sejarah seni lukis Tiongkok. Kejayaan agama Budha telah menyebar-luaskan seni rupa agama Budha ke seluruh Tiongkok.
Tema seni lukis pada zaman dinasti Tang tetap mengutamakan tokoh manusia, sedang lukisan pemandangan mencapai kemajuan yang nyata, lukisan bunga dan burungjuga mulai berkembang.
Perkembangan seni lukis mengalamai pembahan besar pada zaman dinasti-dinasti Yuan, Ming dan Qing antara 8 ratus tahun lalu sampai awal abad ini. Lukisan cendekiawan mendapat perkembangan yang menonjol, tema lukisan pemandangan bunga dan bumng mengambil porsi terbesar, sedang lukisan tokoh manusia yang mencerminkan kehidupan sosial semakin mundur.
Menurut Ilham Khoiri (Kompas, 2007) pada era terdahulu, seni rupa China identik dengan kaligrafi atau pemandangan alam yang digoreskan dengan tinta di atas kertas tipis. Lima tahun belakangan, seni rupa kontemporer “Negeri Tirai Bambu” itu melejit sebagai fenomena segar yang menggegerkan pasar dunia.
Pencapaian seni rupa kontemporer negeri itu yang dirintis oleh gerakan seni tahun 1985-1989, yang diistilahkan sebagai ’85 New Wave. Panitia menyiapkan satu ruang khusus yang memajang catatan dan dokumentasi foto tentang latar belakang dan kronologi gerakan seni tersebut.
Sejarah seni rupa kontemporer China punya latar belakang panjang dan kompleks, seiring dengan perkembangan sosial-ekonomi-politik di negeri itu. Di bawah kekuasaan Mao Zedong, China sekitar 1966-1976 adalah negeri yang tertutup. Rakyat hidup dalam tekanan rezim yang kuat dan memobilisasi massa untuk kepentingan politik pemerintah.
Revolusi Kebudayaan dan Tentara Merah menjadi alat efektif untuk mengendalikan rakyat dalam pergulatan politik yang keras dan bisa menggilas siapa saja. Saat itu, seni rupa hanya jadi alat propaganda untuk menyuarakan kepentingan pemerintah dan Partai Komunis. Sosok Mao menjadi ikon penting yang mewarnai lembaran-lembaran poster yang dibuat dengan corak realisme sosialis.
Tahun 1976, Mao meninggal dunia, dan China kemudian dikendalikan penguasa baru, Deng Xiaoping. Tahun 1979, Deng mulai menerapkan kebijakan politik pintu terbuka. Modernisasi digencarkan dengan visi meningkatkan ekonomi, membuka perdagangan dan investasi asing, dan
merancang negeri itu sebagai industri besar yang memproduksi berbagai barang kebutuhan dunia.
Politik pintu terbuka awalnya masih belum benar-benar membukakan kebebasan ekspresi bagi masyarakat, termasuk dalam seni rupa. Para seniman yang tak betah dengan situasi menekan itu melancarkan gerakan seni tahun 1985-1990. Selama lima tahun itu, lebih dari 1.000 seniman yang tergabung dalam 80-an kelompok, membuat ratusan pameran dan karya eksperimental yang mendobrak pakem lukisan tradisional China.
Tahun 1985, berlangsung banyak pameran pelukis muda di berbagai tempat dengan menawarkan corak visual dan tema segar. Ada pameran bersama The Progessive Chinese Youth Art, Hunan Art Group, The ’85 New Space, dan The ’85 Graduates Works. Bermunculan ulasan seni di koran dan majalah yang mencatat perkembangan seni rupa tahun itu sebagai gelombang ’85.
Sejumlah seniman di Guangzhou menciptakan instalasi, performace art, dan theatrical art. Tahun 1987, seniman Huang Yongping, membuat instalasi berjudul Reptil, berupa beberapa gundukan besar berbentuk makam tradisional China. Makam itu dibuat dari tumpukan kertas koran yang dihancurkan dengan mesin pencuci. Karya ini bisa menyindir, rezim yang mati-
matian “mencuci” otak dan budaya masyarakat. Geng Jiangyi anggota Pond Society, melukis wajah-wajah tertawa yang multitafsir. Wajah-wajah yang tertawa dalam lukisan misalnya, merekam beragam ekspresi sekaligus: gembira, sedih, marah, atau sinis. Gaya ini kemudian banyak memengaruhi pelukis-pelukis berikutnya.
Setahun kemudian, tahun 1988, Xu Bing membuat instalasi menumpuk buku dan kertas yang dipenuhi tulisan. Ini juga sindiran atas situasi rakyat China yang selama puluhan tahun dicekoki doktrin partai sekaligus ditutup dari informasi dunia.
Inilah perhelatan yang mula-mula dikenal sebagai pameran seni rupa kontemporer China. Pameran menjadi sangat politis, karena akhirnya pemerintah menutup perhelatan yang dinilai berbahaya itu, dan kegiatan sebagian seniman avant-garde dibatasi.
Dikekang di negeri sendiri, tiga seniman-Huang Yongping, Gu Dexin, dan Yang Jiechang-malah diundang mengikuti pameran “Megicience de la Tere” di Centre Pompidou di Paris, Prancis. Dobrakan ini berhasil mengenalkan karya seni rupa baru China ke seluruh dunia. “Ada banyak seniman dan penciptaan artistik di dunia, dan tak semuanya mengacu pada disiplin seni rupa Barat,” begitu deklarasi pameran dengan kurator Jean-Hubbert Martin itu.
Para seniman China semakin terang-terangan mengangkat perbincangan yang selama ini terpendam, seperti fungsi seni di masyarakat, ketegangan budaya Timur-Barat, ekspresi seni yang merdeka, hingga mengkritik kondisi sosial-politik dalam negeri. Corak realisme sosial yang memuja ajaran Komunisme digantikan oleh berbagai pendekatan baru yang eksperimental dan menawarkan pendekatan artistik segar.
Begitulah, gerakan seni muncul sebagai kritik atas situasi sosial- politik yang represif selama puluhan tahun. Demonstrasi yang diakhiri tewasnya ribuan mahasiswa di Lapangan Tiananmen, Juni 1989, jadi titik balik yang menentukan. Pada masa berikutnya, dunia makin penasaran dengan apa yang terjadi di China, termasuk dengan pertumbuhan seni rupa kontemporernya.
“Gelombang baru 1985 menjadi penanda bagi tumbuhnya seni rupa kontemporer China,” Gelombang ini memang kemudian memicu perkembangan seni rupa China berikutnya, dan gaya kontemporer jadi arus utama. Tahun 1990-an, muncul sejumlah pelukis yang memperkuat gerakan kelompok seniman avant garde itu, seperti Fang Lijun, Yang Shaobin, dan Yue Minjun. Karya mereka mengentalkan corak realisme-sinis yang menertawakan situasi, atau realisme-traumatis yang membeberkan luka yang dialami masyarakat yang tertindas.
SENI RUPA INDIA
A. Sekilas Sejarah India
India berasal dari nama salah satu sungai yang ada di jazirah ini yaitu sungai Sindu. Untuk mengetahui penduduk pertama yang mendiami jazirah India sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti. Akan tetapi bila dirujuk lebih awal ke sejarah turunnya manusia ke bumi, maka manusia pertama sebagai nenek moyang manusia, Siti Hawa diturunkan Allah disekitar jazirah India. Begitu juga bila melihat secara geografi maka India dahulunya diyakini bertautan dengan Indonesia dan benua Australia. Hanya saja setelah itu dipisahkan karena pergeseran-pergeseran lempeng bumi dan naiknya air pada masa glacial.
Negeri ini telah memiliki taraf kemajuan kebudayaan semenjak 2.300 SM. Bukti kemajuan itu diketahui dari penyelidikan terhadap dua buah kota kuno yaitu Harappa dan Mohenjo-Daro. Dari hasil penyelidikan atas kemajuan kebudayaan India ini ditemukan seni bangunan, kemampuan menulis, gudang-gudang tempat menyimpan makanan, dan tepian tempat mandi. Kemajuan India dalam soal beragamapun juga telah lama sebelum nabi Isa a.s lahir. Dari jazirah ini pula lahir agama Brahmana dan Budha Gautama.
Perkembangan sejarah India yang begitu panjang tentu meliputi sejarah kesenian mereka. Khusus tentang sejarah seni rupa India yang diketahui sekarang dan dikaji dimulai pada masa bangsa Arya menyerbu daerah ini sekitar 2.000 – 1.200 SM. Bangsa Arya ini mendesak penduduk yang telah mendiami India yakni bangsa Drawida.
Sejarah perkembangan India selanjutnya dipengaruhi dan diwarnai dengan munculnya kerajaan-kerajaan besar di jazirah ini. Hubungannya dengan luar negeri dan agama juga
memberi andil dalam mempengaruhi perkembangan budaya negeri ini. Agama yang dominan mempengaruhi sejarah India adalah Hindu, Budha dan Islam. India yang dimaksud dalam sejarah ini meliputi negara India, Pakistan, Banglades, dan Sri Langka. Tiga negara terahir (Pakistan, Banglades, dan Sri Langka) yang merupakan bahagian dari India sebelumnya kemudian berpisah menjadi negara merdeka.
Sebagaimana dikemukakan bahwa perkembangan seni rupa di India dipengaruhi oleh Hindu, maka ada baiknya diketehaui sekilas tentang Hindu, Jaina, dan Budha.
1. Hindu
Bangsa Arya yang hidup di kampung-kampung kecil sekitar tahun 1800 sampai 800 SM pada umumnya menyembah dewa. Mereka menggunakan bahasa sangsekarta dan lebih dekat dengan bangsa Indo-Eropa di Yunani dan Romawi. Dalam kitab Veda sebagai kitab suci kuno dari agama Hindu menurut Syofyan Salam (1999) merupakan risalat agama Indo-Eropa yang tertua berisi lagu-lagu pemujaan untuk penghormatan kepada dewa langit, dewa matahari, dewa badai, dewa bumi dan sebaginya.
Tahun 800 – 500 SM dihasilkan karya keagamaan Brahmana dan Upanisad. Dalam Brahmana diuraikan tentang kitab Veda yang menyangkut cara penyembanhan kepada dewa-dewa. Kaum Brahmana menjadi sangat penting dalam prosesi penyembahan pada dewa-dewa terutama dalam tata cara pemberian sesaji.
Kitab Upanisad lebih banyak membicarakan tentang hakekat rokh (Brahma), dunia rokh sebelum sampai pada tujuan akhir dia akan hidup beberapa kurun waktu dalam tubuh yang kasat mata. Kehidupan yang berkali-kali dalam tubuh itu dikenal dengan reinkarnasi. Kitab ini berisi ajaran mengenai landasan berfikir atau filosofis.
Pada masa ini juga masyarakat Hindu dibagi atas empat kasta. Pertama kasta Brahman yang dianggap kelompok tertinggi atau terhormat, yang termasuk dalam kasta ini adalah para pendeta. Kedua kasta Ksatria yang terdiri dari kaum bagsawan dan prajurit. Kelompok seniman, pedagang, dan petani termasuk pada kasta Waisya. Kemudian kasta Sudra yang terdiri dari para budak atau rakyat jelata. Pembagian kasta ini tentu tidak terlepas dari hegemoni para tokoh agama dan bangsawan atas bangsa drawida yang termasuk dalam kelompok sudra.
2. Jaina
Awalnya agama ini merupakan sebuah reformasi berpikir dari agama Hindu, salah seorang keluarga bangsawan bernama Mahawira mendirikan sekte sekitar tahun 500 SM, ia lebih muda dari Sidharta Gautama (pendiri agama Budha). Ia menentang kehidupan bangsawan yang diliputi oleh kekuasaan dan kemewahan, Mahawira pergi mengembara selama 12 tahun untuk mencari arti kehidupan. Pengembaraannya diformulasikan dalam sebuah ajaran ahimsa yang melihat setiap kehidupan bernyawa adalah suci dan tidak boleh diganggu. Segala sesuatu yang ada di dunia ini hakekatnya berjiwa seperti batu-batuan, binatang, dan tumbuh-tumbuhan, maka manusia harus memperlakukan dengan selayaknya.
Di samping itu ajarannya ini adalah bahwa tidak boleh membunuh makhluk bernyawa, harus bersikap jujur, tidak mencuri, tidak memiliki harta. Untuk melepaskan diri dari kehidupan dunia yang materialis adalah dengan bertapa dan mensucikan diri. Mahawira terus menyebarkan pemikirannya ini sebagai sebuah ajaran agama.
3. Budha
Pada tahun 563 SM di Kapilawastu lahirlah Sidharta Gautama yang mendirikan ajaran Budha. Kehadiran ajaran Budha tidak lepas dari hasil perenungan Sidharta yang didapat dari pengembaraannya dalam kehidupan yang keras. Ia yang lahir dari keturunan bangsawaan melepaskan atributnya dalam pengembaraannyanya, hal ini sama dengan Mahawira.
Hal pokok dalam ajaran Budha dalam mencapai kehidupan surgawi adalah dengan cara melepas kehidupan duniawi. Maka dalam hal ini penderitaan merupakan susuatu yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan, keinginan diri harus harus dirusak, dikekang, dan dibunuh. Pengembaraan diperlukan dengan meminta-minta sambil melakukan disiplin tertentu.
Ajaran Budha yang lahir di India ini sebelumnya kecil (hinanaya) selanjutnya berkembang menjadi besar (mahayana). Perkembangannya yang pesat terjadi semasa raja Asoka pada dinasti Maurya. Awal abad ke 6 ajaran ini terdesak oleh Hindu dan selanjutnya bergerak ke arah timur India kemudian lenyap. Ajaran Budha kemudian menyebar ke negeri tengganga India seperti Sri Langka, Tibet, Cina, Jepang, Burma, Thailand, dan Indonesia.
B. Seni Rupa India
Ada berbagai karya seni rupa India yang menonjol dan memberi pengaruh terhadap perkembangan seni rupa Indonesia. Karya seni rupa India yang memberi pengaruh besar itu adalah arsitektur seperti candi dan bangunan lainnya, lukisan dan ukiran/ relief yang bersumber cerita mahabrata.Sejarah India kuno memiliki berbagai macam hasil kebudayaan, antara lain seni lukis, seni patung, seni bangunan (arsitektur), seni kerajinan, seni busana dan lain sebagainya. Disetiap kebudayaan memiliki perbedaan masing-masing dan juga memiliki pengaruh ke Indonesia.
Karya-karya seni rupa India terutama lukisan sudah ditemui semenjak zaman prasejarah sekitar 5.500 SM. Perkembangan seni rupa India seiring dengan perkembangan budaya dan masuknya pengaruh agama. Sebagaimana diketahui karya seni di India tidak semata-mata bertujuan keindahan melainkan ditujukan untuk pemujuan dan memperdalam kehidupan kerohanian. Pengaruh agama seperti Budha, Hindu, dan Islam banyak menjadi insipiarsi seniman dalam berkarya.
Dalam mengapresiasi seni rupa India harus dipahami latar belakang agama yang mendasarinya. Karya-karya seni rupa India bersifat simbolis tidak dibuat berdasarkan ekspresi tok. Ada aturan-aturan tertentu dalam membuat karya, aturan-aturan itu sangat baku seperti proporsinya, bentuk-bentuk, dan warna yang digunakan. Jika terjadi penyimpangan dari aturan maka karya itu dianggap tidak bermanfaat walau karya tersebut indah dan halus (eksperisif). Hal ini tidak lepas dari maksud seni dibuat tidak untuk memuaskan rasa estetis seniman melainkan untuk mempertinggi martabat dewa dan memperdalam rasa keagamaan.
Terjadinya berbagai variari dalam karya disebabkan pengaru lokal dan perkembangan zaman. Pengaruh agama juga menimbulkan style karya seperti awalnya Budha tidak dibuat dalam bentuk patung figuarif melainkan motif pohon bodhi, telapak kaki, ataupun motif hias roda. Bagian atas candi atau atap pada abad 9 sampai abad 13 dibuat dalam bentuk ujung peluru.
1. Seni Lukis India
Sejarah dan perkembangan seni lukis India tidak sedahsat perkembangan seni patung dan arsitekturnya. Data tentang seni lukis India amat terbatas terutama data-data seni lukis masa-masa dinasti yang berkuasa di India. Namun seni lukis India tentulah tetap ada sebagaimana ditemukannya lukisan yang terdapat di gua Ayanta.
Seni lukis zaman Ayanta ini merupakan seni lukis yang dianggap menemukan tingkat kemajuan yang tinggi waktu itu. Ada dua tahap perkembangan seni lukis masa ini yakni pertama abad 2 AD dan tahap kedua pada abad ke 5 AD di bawah naungan Vakatakas yang memerintah di Deccan.
Karya-karya lukis dibuat dari filosofi yang dalam, yang anggun dan agung. Bila dilihat dari teknik seni lukis moderen maka lukisan sudah sangat maju. Hal ini dapat dilihat sudah adanya pemahaman perspektif yang dapat dilihat pada bagian tiang-tiang.
Ada juga lukisan dari akhir abad ke 9 (Jaina) di gua-gua di Ellora. Para pelukis di sini melanjutkan tradisi lama, tetapi dengan kontribusi dari mereka sendiri. Selain naturalisme dan ide-ide dari warisan Ayanta, angka dan huruf dilukis dengan penggayaaan atau distilirisasi. Corak ini adalah perubahan signifikan yang kemudian tercermin dalam lukisan dan kaligrafi di Indonesia.
Di Kasmir masih kawasan India terdapat corak baru perkembangan lukisan waktu itu. Selain temanya yang tidak saja pengambaran para dewa melainkan juga dewi. Lukisan-lukisan itu sama di berbagai tempat lain yakni terdapat didinding goa. Berbagai tema lukisan jumpai pada masa ini, seperti tentang manusia, kesunyian, dan kebesaran.
Lukisan-lukisan yang terdapat didinding-dinding goa, dan bagian atasnya menjadi insipirasi bagi perkembanganan seni lukis mural di India sampai berabad-abad kemudian. Lukisan-lukisan itu dibuat di dinding dan atap atau bagian atas candi, kuil, dan stupa. Umumnya tema-tema lukisan mengenai pemujuaan terhadap dewa dan tentang kehidupan, sedang tujuan lukisan untuk peningkatan rasa keagamaan dan kemanusian.
Bagian utara India seni lukis pernah mengalami kejaan pada abad ke-16, yang waktu itu daerah ini di bawah masa pemerintahan maharaja Mughal Akbar. Pada masa ini pernah lahir sebuah miniatur yang tinggi mutunya yakni miniatur yang terdapat di pengadilan.
Kualitas lukisan dinding yang baik dari Rajasthan ditemukan di Amer Bhojanshala dekat Istana Jaipur. Ini adalah lukisan yang sangat indah abad 17 di India. Pada lukisan ini (gambar 5) pelukis memperlihatkan gambaran kedekatan dan persahabatan yang kuat. Lukisan diekspresikan di atas tembok dan dibuat dalam skala kecil untuk mural. Namun, pelukis mampu mengungkapkan dengan kepekaan dan kecermatannya menciptakan sebuah gambaran keintiman antara pengamat dan lukisan.
Lukisan Siva seperti gambar di atas terdapat pada candi Shivdwala, Chamba, Himachal Pradesh. Lukisan Siva ini mengungkapkan dunia keindahan dan kemurnian. Siva digambarkan dengan lemah lembut dan penuh kasih pada dataran sebelah timur India, yang merupakan negara kaya. Ini adalah sebuah contoh yang langka dari tradisi kuno mural India berbeda dengan miniatur yang dibuat pada dinding dengan tema-tema lukisan kisah Ramayana. Seni lukis India terutama lukisan didinding yang terdapat di goa, candi, dan kuil juga dapat ditemui di daerah Punjab. Mural dari Punjab mungkin menjadi tahap akhir lukisan dinding di India. Pada lukisan-lukisan terdapat wajah khas dari Punjab. Tema-tema dan caranya yang sangat berakar pada budaya lokal. Ada rasa sepi yang bermartabat, yang terbaik yang muncul dalam lukisan ini.. Lukisan mural ditemukan tersembunyi jauh di candi di tengah-tengah pasar yang sibuk di Amritsar, di kuil di desa seperti Kishankot, Qila Mubarak, dan Qila Androon dalam benteng Patiala.
Lukisan-lukisan India terutama yang bertemakan kisah Ramayana banyak mempengaruhi seni lukis Bali corak tradisi. Selain tema lukisan beberapa teknik dan pewarnaan juga banyak dipengaruhi lukisan India. Seni lukis dinding, seni relief Indonesia juga mendapat pengaruh dari mural India. Sebagaimana diketahui sampai saat ini di Bali masih banyak penganut agama Hindu dan juga beberapa tempat di Jawa. Dari fakta ini maka pantas kesenian India mempengaruhi berbagai kesenian di Indonesia terutama di daerah tersebut.
2. Arsitektur India
Karya arsitektur India sama halnya dengan seni lainnya, ia pun dipengaruhi oleh unsur keagamaan. Beberapa arsitektur India seperti stupa, candi, dan kuil berkaitan dengan agama Budha, Hindu, dan Jaina. Artinya bangunan-bangunan itu selain berfungsi untuk tempat pemujaan juga tempat tinggal bikhsu. Misalnya komplek stupa selain sebagai monumen juga berfungsi tempat pemujaan, di situ ada chaitya dan wihara sebagai tempat pertemuan, tempat pemujaan dan sekaligus tempat tinggal bikhsu.
Bangunan-bagunan ini sebagai bukti sejarah kemajuan budaya India. Selain berarsitektur bagus bagunan-bagunan itu terbuat dari bahan batu. Bagunan yang terbuat dari bahan batu ini sangat tahan. Beberapa karya arsitektur India senantiasa menjadi bahan kajian dan bahasan karena di antara karya-karya seni India maka seni bagunan ini lah yang masih tersisa sebagai bukti peninggalan sejarah.
Stupa merupakan salah satu bagunan suci berfungsi sebagai monumen peringatan Budha. Bangunan ini mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan budaya masyarakatnya. Pada awalnya bentuk stupa sangat sederhana, bagai onggokan tanah setengah lingkaran, kemudian berkembang dengan penambahan bentuk kiri, kanan, depan belakang, dan bagian atas. Bahannya pun berubah dari tanah menjadi batu. Walaupun bahan stupa dari tanah atau batu namun bila melihat arsitekturnya sangatlah bagus karena selain ada patung ada ornamen-ornamen.
Stupa yang merupakan tempat suci bagi penganut Budha sekaligus sebagai tempat pemujaan. Di dalam stupa tersimpat benda-benda suci. Perkembangan arsitektur stupa lebih banyak di luar India sebagaimana perkembangan agama Budha itu sendiri. Di daerah Thailand tempat berkembangnya agama Budha maka stupa dapat dijumpai dalam berbagai bentuk dengan arsitektur yang indah, megah dan berkesan mewah.
Arsitektur India lainnya adalah chaitya dan wihara, dua bangunan ini tidak begitu sering dibahas. Bagunan ini berupa gua atau bukit yang dikerok. Umumnya bangunan ini sebagai tempat pertemuan, tempat tinggal bikhsu (bertapa atau menyendiri) dalam upaya menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi.
Chaitya dapat berupa stupa, altar, dan bahkan pohon karena maksudnya adalah tempat pemujaan. Chaitya yang dibuat di bukit bentuknya empat persegi panjang dengan ujung bagian dalam berupa setengah lingkaran tempat meletakkan patung budha. Kiri kanan menuju ceruk (setengah lingkaran) disangga oleh tiang, bagian atas melengkung, bagian depan atau pintu masuk dihiasi dengan berbagai relief.
Chaitya yang paling tua dibuat sekitar 150 SM yaitu chaitya Bahaja. Perkembangan arsitektur chaitya selanjutnya dalam bentuk penambahan interior dan eksteriornya, ukuran, dan bahan-bahan yang digunakan. Chaitya yang terkenal terdapat di Karli dan dibuat pada masa dinasti Andhra abad ke 1 dan ke 2 M.
Kemampuan dalam menggali bukit, menyangga, dan membuat ornamen menunjukkan telah majunya budaya India pada abad ke 1 M. Pada pintu masuk chaitya tampak kesan keanggunan dan sekaligus juga kesan ritual. Pemilihan lokasi juga sangat menentukan perpaduan antara ritualitas dan seni bangunan.
Telah banyak teori yang mencoba menjelaskan perihal bagaimana caranya pengaruh kebudayaan India (Hindu-Buddha) sampai ke kepulauan Indonesia. Hal yang sudah pasti adalah berkat adanya pengaruh tersebut penduduk kepulauan Indonesia kemudian memasuki periode sejarah sekitar abad ke-4 M. Menurut J.L.A Brandes (1887) penduduk Asia Tenggara termasuk yang mendiami kepulauan Indonesia telah mempunyai 10 kepandaian menjelang masuknya pengaruh kebudayaan India, yaitu:
a. mengenal pengecoran logam,
b.mampu membuat figur-figur manusia dan hewan dari batu, kayu, atau lukisan di dinding goa,
c. mengenal instrumen musik,
d. mengenal bermacam ragam hias,
e. mengenal sistem ekonomi barter,
f. memahami astronomi,
g. mahir dalam navigasi,
h. mengenal tradisi lisan,
i. mengenal sistem irigasi untuk pertanian, dan
j. adanya penataan masyarakat yang teratur.
Setelah berinteraksi dengan para pendatang dari India, maka terjadi asimilasi. Aspek-aspek kebudayaan dari India yang diterima oleh nenek moyang bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang baru, yaitu sesuatu yang tidak mereka kenal sebelumnya, seperti: aksara (pallawa), agama Hindu dan Buddha, serta penghitungan angka tahun (saka).
Melalui ketiga aspek kebudayaan dari India itulah kemudian peradaban nenek moyang bangsa Indonesia berkembang dengan pesatnya, sehingga menghasilkan bentuk-bentuk baru kebudayaan Indonesia kuno. Dari hasil asimilasi budaya ini akhirnya menemukan sesuatau bentuk baru dan pencapaian itu diakui sebagai hasil kreativitas penduduk kepulauan Indonesia sendiri.
Konsekwensi logis dengan diterimanya agama Hindu-Buddha oleh penduduk kepulauan Indonesia terutama Jawa, maka banyak aspek kebudayaan yang dihubungkan dengan kedua agama itu menjadi berkembang. Hal itu dapat diamati secara nyata dalam bidang seni arca dan seni bangun (arsitektur). Bentuk kesenian lain yang turut terpacu sehubungan dengan pesatnya kehidupan agama Hindu-Buddha dalam masyarakat adalah seni sastra. Banyak karya sastra dan susastra yang digubah dalam masa Hindu-Buddha selalu dilandasi dengan nafas keagamaan Hindu atau Buddha. Penguraian perihal ajaran agama disampaikan dengan cerita-cerita yang melibatkan para ksatrya.
Sebagaimana biasanya seni tradisonal maka karya arsitektur juga tidak disebutkan dan tidak diketahui seniman pembuatnya. Karya-karya seni secara umum dibuat sebagai persembahan bagi kegiatan keagmaan. Dengan demikian seni lukis, patung dan arsitektur tradisional India tidak diketahui pembuatnya. Karya tersebut dianggap sebagai suatu karya komunal, suatu karya yang didedikasikan bagi kehidupan agama dalam masyarakat. Dari penyelidikan sejarah yang bisa diketahui adalah masa karya tersebut dibuat, tahun pembuatan dan di bawah masa pemerintahan atau dinastinya.
Begitu juga dengan karya arsitektur kuno di Indonesia amat sukar untuk diketahui seniman pembauatnya. Hasil penelitian hanya dapat mengungkapkan dan menyimpulkan relief cerita apa saja yang dipahatkan di Candi Borobudur, berapa kubik balok batu yang dipergunakan untuk membangun candi itu, berapa jumlah stupanya. Jadi tidaklah dapat diketahui siapa arsitek perancangnya. Jangankan arsiteknya, nama raja yang menganjurkan untuk mendirikan Candi Borobudur pun sampai sekarang masih belum dapat diketahui secara pasti.
Karya Arsitektur awal yang masih dapat bertahan hingga kini dari masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Jawa hanya beberapa bangunan saja. Misalnya Candi Gunung Wukir di Magelang, beberapa candi di dataran tinggi Dieng, candi-candi Gedong Songo di Ambarawa (Jawa Tengah), dan Candi Badut di Malang (Jawa Timur). Di antara candi-candi tersebut yang dihubungkan dengan prasasti yang berkronologi adalah Candi Gunung Wukir dengan prasasti Canggal (tahun 732 M) dan Candi Badut dengan prasasti Dinoyo (tahun 760 M).
Awalnya bagunan sakral Indonesia terbuat dari bahan yang mudah rusak, seperti ijuk, jalinan rumput ilalang kering, kayu dan bambu. Bangunan yang terbuat dari bahan ini sudah tidak dapat dijumpai lagi. Pada sekitar awal abad ke-9 terjadi perombakan besar-besaran terhadap bangunan-bangunan suci demikian, dengan ditambahi dengan dinding, relung-relung, serta struktur atap yang terbuat dari bahan yang tahan lama seperti tanah dan batu. Pendapat itu didasarkan pada dijumpainya beberapa susunan perubahan dan tambahan pada beberapa candi di Jawa Tengah, misalnya pada candi Bima di Dieng, Candi Lumbung di daerah Prambanan, dan candi-candi Perwara di kelompok percandian Sewu.
Masuknya pengaruh budaya India melalui perdagangan ke masyarakat Jawa, maka bangunan-bangunan suci yang didirikan di Jawa pun dibuat sesuai dengan kaidah ajaran Hindu atau Buddha. Bentuk candi-candi di Jawa kemudian ada yang mirip dengan kuil-kuil pemujaan dewa yang ada di India.
Pengaruh itu tampak pada beberapa bangunan bangunan candi di Jawa bagian tengah di mana bentuk arsitekturnya diilhami oleh bangunan-bangunan suci di India. Beberapa bangunan di Mahabalipuram seperti Arjuna Ratha, Draupadi Ratha dan Dharmaraja Ratha dan beberapa bangunan lainnya yang merupakan peninggalan dinasti Pallava bentuknya sangat mirip dengan candi-candi di dataran tinggi Dieng.
Jika diamati arsitektur bangunan suci masa Gupta dan sesudahnya serta arsitektur masa dinasti Pala di timur laut India menjadi salah satu pengembangan bangunan-bangunan candi di Jawa bagian tengah. Begitupun bangunan Candi Bima di Dieng tampak pertalian bentuknya dengan bangunan suci Orissa di India.
Bentuk-bentuk monumen keagamaan Hindu-Buddha di Jawa pada masa silam banyak dipengaruhi oleh arsitektur India. Hal tidak lepas dari agama Hindu atau Buddha yang datang dari India dengan mudah diterima oleh masyarakat. Dengan sendirinya konsep-konsep dasar tentang pembuatan bangunan suci, arca, dan ornamen juga diterima masyarakat.
Selanjutnya arsitektur bangunan suci di Jawa tidak lagi mengadopsi bentuk-bentuk dari India. Bentuk arsitektur bangunan suci di wilayah Jawa Tengah sudah berkembang dengan bentuk tersendiri, kecuali pada seni arca dan ornamennya. Misalnya Candi Barong dan Candi Ijo di Jawa Tengah yang halamannya dibuat bertingkat-tingkat sebagaimana layaknya punden berundak dalam masa prasejarah.
Arsitektur bangunan di Jawa semakin berkembang ketika periode Klasik Muda. Di wilayah Jawa Timur (abad ke13—15 M) arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha berkembang dengan gayanya tersendiri, seperti candi-candi bergaya Singhasari, gaya candi Jago, gaya candi Brahu, dan punden berundak.
Konsepsi pembangunan candi adalah perpaduan dewata tertinggi (Hindu dan Budha), misalnya kehadiran nafas Siva dan Buddha akan dirasakan pada arsitektur Candi Jawi (Pasuruan) dan Candi Jago (Malang). Di Candi Jawi, unsur Buddha terlihat pada puncaknya, sedangkan di relung-relung tubuh candinya dahulu berisikan arca-arca Hindu-Saiva khas Jawa. Begitupun di Candi Jago, cerita relief yang dipahatkan banyak yang bernafaskan Hindu-Saiva, adapun arca-arca pelengkap candi itu semuanya bernafaskan Buddha Mahayana.
Perbandingan arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di India dan Jawa dirasakan adalah adanya parallelism (kesejajaran) setelah agama Hindu-Buddha dari India diterima oleh masyarakat Jawa Kuno. Awalnya pengaruh India banyak mengilhami arsitekrut bangunan keagamaan di Jawa (sekitar abad ke-8 M), ketika peradaban Hindu-Buddha baru mulai marak berkembang. Namun pada priode-periode selanjutnya karya arsitektur Jawa Kuno berkembang tersendiri.
Kesamaan arsitektru itu dapat diamati dalam hal konsepsi dasarnya, sedangkan dalam segi visualisasi atau dalam bentuk kebudayaan materi (bangunan, arca dan relief), terdapat perbedaan. Kalaupun ditelusuri lebih mendalam konsepsi keagamaan pun tetap ada perbedaan. Perlu diingat visualisasi kebudayaan materi adalah berangkat dari ide atau konsepsi. Jika ada pertanyaan mengapa candi-candi di Jawa berbeda dengan kuil-kuil pemujaan dewa di India, bisa jadi hal itu karena cerminan konsepsi masyarakat pendukungnya.
Walaupun agama datang dari India ke Jawa namun mendapat sentuhan pendeta-pemikir Jawa Kuno, lalu muncul gagasan yang memadukan hakekat Siwa-Buddha. Oleh karena ada perpaduan itu, maka peralatan ritusnya pun menjadi berbeda, tidak lagi sama dengan di tanah asalnya.
3. Seni Patung dan Relief India
Sebagaimana telah disinggung pada bagian awal bahwa kemajuan kebudayaan India terbukti dari tata kota dan arsitektur pada lembah sunggai Indus. Selain dari tata kota dan aritektur yang telah maju pada dua pusat kebudayaan di lembah sungai Indus (Harappa dan Mohenjodaro) juga kemajuan patungnya. Karya-karya seni patung teracotta, batu kapur, dan logam telah dibuat dua kota itu. Patung yang dibuat figur manusia dan binatang.
Patung figur manusia yang dibuat melambangkan dewi kesuburan. Patung ini hampir sama dibanyak tempat dimana dewi kesuburan dibuat dengan pinggul besar dan buah dada yang menonjol dan pakai perhiasan kepala serta kalung. Patung teracotta berfungsi sebagai mainan dengan mengambil objek binatang seperti lembu, burung, gajah, dan badak.
Kebudayaan India yang telah maju dari dulu juga dapat dilihat buktinya pada seni Patung dan seni relief. Di Mohanjodaro ( 2000 – 1750 SM) orang India telah mampu membuat patung/relief. Sebagai buktinya dapat dijumpai peninggalannya patung logam wanita menari yang berukuran 10 cm. Patung logam (perunggu) ini memperlihatkan orang India asli dengan ciri bibir tebal dan rambut keriting. Sedangkan di Harappa (2300 – 1750 SM) juga dijumpai patung dewa yang terbuat dari batu berukuran 17, 5 cm. Juga ada patung torso terbuat dari batu kapur. Penggarapan patung torso ini menggunakan pendekatan realistis yang menunjukkan sifat vitalitas dan monomental.
Selain seni patung yang telah maju di lembah sungai Indus, maka seni reliefnya (2000 SM) pun juga berkembang. Seni reliefnya terdapat pada materai yang berfungsi magis. Penggarapannya sudah sangat halus, materai terbuat dari steatite berbentuk persegi dengan ukuran ¾ sampaii 1 ½ inci. Berbagai bentuk relief yang jemlahnya ribuan bermotifkan objek binatang (badak, buaya, rusa, lembu, dan stilisasi binatang) dan objek simbol (swastika, roda, dan daun). Selain motif-motif itu juga ada motif manusia yang sedang duduk dalam posisi yoga. Relief dengan motif manusia terdapat di Mohenjodaro. Bila melihat hiasan kepala yang digunakan pada relief motif manusia ini maka dapat dikaitkan dengan dewa Syiwa.
Setelah masa kebudayaan di lembah sungai Indus maka sejarah perkembangan seni patung India tidak begitu menonjol. Satu hal yang dapat dikemukakan bahwa seni patung India diperuntukkan untuk pemujaan. Perkembangan patung selanjutnya terjadi pada masa pengaruh ajaran Budha.
Di mana pada masa dinasti Maurya (321-184 SM) patung Budha dibuat dalam bentuk simbol yakni patung motif pohon bodhi, patung/ relief roda ajaran dan stupa. Para penganut budha membuat patung-patung tersebut sebagai sarana pemujaan pada budha. Seni patung budha tertua berupa tiang-tiang batu yang disebut stambha atau dharmastambha. Pada masa pemerintahan raja Ashoka banyak didirikan stambha dengan tinggi 15 meter dari batu tunggal.
Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan Tamil.
Menurut Kundalini yoga, Ganesa menempati cakra pertama, yang disebut muladhara. Mula berarti "asal, utama"; adhara berarti "dasar, pondasi". Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokok-pokok kekuatan ilahi yang terpendam. Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa.
Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4 sampai abad ke-5. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal, yang diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra, yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta. Pemujaan tersendiri terhadapnya muncul sekitar abad ke-10. Narain mengikhtisarkan kontroversi antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap
Sejarah Senirupa Mesir / Egyptian art history
Perkembangan seni rupa murni mancanegara di luar Asia berawal dari seni rupa Timur purba hingga sejarah seni rupa Eropa modern. Seni rupa Timur purba dapat dilihat melalui perkembangan seni rupa di Mesir. Kurun waktu perkembangannya dapat diuraikan secara kronologis, yaitu dimulai dari sejarah seni rupa Mesir, seni rupa Eropa Klasik, seni rupa Renaissance, seni rupa Barok dan Rokoko, hingga seni rupa zaman modern.
Mesir merupakan bangsa yang mempunyai peninggalan kebudayaan tertua di dunia (sejak 3400 SM). Bentuk karya-karya seni rupa bangsa Mesir berupa seni bangunan, seni patung, relief, seni lukis, dan seni kriya. Seni bangunan Mesir terdiri atas bangunan piramida, mastaba, dan candi. Piramida dan mastaba merupakan bangunan yang berfungsi untuk menyimpan mumi, sedangkan candi berfungsi sebagai tempat pemujaan. Seni patung Mesir terbuat dari batu granit yang merupakan penggambaran
dari Ramses, Chefren, Achnaton, Amenhotep, dan Spinx. Relief dan seni lukis Mesir banyak ditemukan pada dindingdinding kuburan dan peti mati. Peninggalan lainnya berupa benda-benda kriya, seperti tembikar, perhiasan, dan mahkota.
Periode kekuasaan Mesir kuno adalah berupa pembentukan dinasti yaitu suatu teokrasi dimana para penguasa (pharaohs),sebagai penguasa, pemikir dan juga mengangkat dirinya sebagai dewa. Kekuasaan ini dimulai dari Lembah Nil sekitar 3150 SM, dan bertahan hingga 31 dinasti. Dinasti berakhir setelah Mesir takluk kapada Kerajaan Romawi pada sekitar abad 30 SM. Pada periode kekuasaan Romawi secara bertahap terjadi perubahan politik dan agama dan periode inilah yang mengakhiri perkembangan peradaban independen Mesir.
Peradaban Mesir Kunoberada di bagian timur laut Afrika yang terpusat sepanjang pertengahan hingga hilir Sungai Nil dan mencapai kejayaannya pada sekitar abad ke-2 SM, yang disebut periode Kerajaan Baru. Wilayahnya mencakup Delta Nil di utara, hingga Jebel Barkal di Katarak. Pada beberapa zaman, peradaban Mesir meluas hingga ke selatan Levant, Gurun Timur, pesisir pantai Laut Merah, Semenajung Sinai, serta Gurun Barat.
Bentuk peradaban Mesir kuno antara lainberupa bangunan ( Architecture ), tulisan, patung, relief, painting, mumi dll, yang tinggi dan hingga kini masih bertahan.
Beberapa contoh karya / peninggalan Seni rupa timur :
Bangunan / Architecture
Piramida Yang dibengkokkan, dibangun masa pemerintahan Raja Sneferu ( 2575 BC-2551 BC). Awalnya arsitek membangun dinding dengan sudut 55 derajat, Kemudian mereka temu permasalahan struktural hingga dilanjutkan menjadi 43 derajat tingkat
4000 tahun usia, Sphinx (patung manusia berbadan singa), Giza Yang besar adalah lencana yang terkenal dari Mesir masa lampau
Kuil Luxor, berada di timur Sungai Nil, mulai dibangun sekitar tahun 1200s BC untuk menghormati para dewa. Bangunan Kuil ditambahkan ke atas oleh masing-masing dinasti. Di depan terdapat tugu (obelist)dan patung kolosal. Kuil ini dihubungkan ke Kuil Al Karnak oleh jalan sepanjang 3.5 km. Sepanjang jalan dihiasi dengan beratus-ratus sphinx. Dalam sekali setahun dewa Amon diangkut oleh tongkang dari Al Karnak ke Luxor, pada sebuah festival besar
Patung Raja Khafre duduk, dari 2500s BC, diukir dari suatu blok batu diorit padat, batu keras dari kerajaan tua Kerajaan di Mesir. Tinggi 165 cm ( 66) tinggi dan adalah suatu diidealkan penyajian raja, dengan bentuk geometris kuat dan proporsi dramatis. (Microsoft® Encarta®, 2005).
Patung Dewi Selket, yang ditemukan pusara Raja Tutankhamun Mesir. dewi yang menyembuhkan menggigit dan sengat, dilukiskan sebagai perempuan indah dengan suatu kalajengking pada [atas] kepala nya. Helaian emas adalah dibuat oleh menempa emas padat yang metal sangat tipis.
Pangeran Rahotep dan Isteri Nya Nofret ditempatkan pusara, sebagi mewakili sesaji diterima dan yang ditinggal dari yang hidup. Patung Batu gamping di sini, Pangeran Rahotep dan Isteri Nya Nofret, dari 4th Dinasti ( 2575-2467 BC) dan telah ditemukan pusara Rahotep's di (dalam) Maydüm. sekarang berada Musium Cairo. (Microsoft® Encarta®, 2005).
Kesenian Mesopotamia
Mesopotamia adalah suatu daratan yang terletak antara sungai Efrat dan sungai Tigris. Masyarakatnya makmur sehingga kebudayaannya berkembang dengan baik, telah mengenal berbagai ilmu pengetahuan dan tulisan yang disebut tulisan Paku.
Daerah ini merupakan lalu lintas yang sangat ramai dan sering dijadikan sasaran invansi oleh berbagai bangsa, antara lain oleh bangsa Sumeria, Babilonia, Asiria dan Persia.
Masyarakat Mesopotamia tidak mengenal kultus kematian sehingga jarang ditemukan makam sebagai bentuk arsitektur yang khas. Keseniannya lebih bersifat duniawi, tetapi sisa – sisa peninggalannya tidak sampai ke jaman kita karena:
-Mengunakan bahan yang tidak tahan lama (batu bata).
-Sering terjadi bencana banjir.
-Masyarakatnya bersifat vandalis (perusak) karena sering terjadi perebutan kekuasaan (perang).
a. Seni Bangunan Mesopotamia
- Istana, dengan ciri – ciri: menggunakan konstruksi lengkung tong tanpa
menggunakan tiang. Pada bagian pintu gerbang terdapat patung penjaga
Ambang, yaitu patung berkepala Raja dan berbadan banteng dan bersayap.
Contohnya istana Sargon II di Khorzabad.
- Ziggurat, yaitu sejenis menara bertingkat berbentuk kerucut yang berfungsi
sebagai banguan suci Stele, yaitu sejenis tugu batu yang permukaannya diberi relief tentang suatu peristiwa, contohnya Stele Hamurabi.
b. Seni Patung, ciri
– cirinya:
Patung Sumeria : tubuh kaku otot dilebih – lebihkan dan kepalanya bulat.
Ptung Asiria : matanya diperbesar, dekoratif, raut muka mengesankan kekerasan.
Patung Babilonia : bersikap tenang seolah – olah sedang menjalankan tugas Keagamaan.
c. Seni relief
Relief Babilonia : bertemakan tentang keagamaan
Relief Asiria : bertemakan tentang kekerasan
0 komentar:
Posting Komentar